top of page
Check back soon
Once posts are published, you’ll see them here.

Fiksi Sains: Di Antara Mitos, Cerita Keagamaan, dan Literasi Populer

Dalam perkembangan kebudayaan, khususnya kesusastraan dan literasi secara umum ketika dijelaskan secara diakronis memiliki kajian yang menarik untuk didiskusikan. Karya sastra yang memiliki bahan bakar imajinasi selalu menghadirkan kisah yang terus menerus diceritakan, dikembangkan, atau bahkan dijadikan patron tertentu oleh pembacanya.

Aktivitas kesusastraan adalah simbol yang dapat digunakan untuk membaca kebudayaan dan perkembangan peradaban manusia yang terjadi di sekitarnya. Epos-epos Yunani Kuno dan India menandai kerajaan-kerajaan besar di masa lampau, karya-karya besar Edmund Spencer atau William Shakespeare menarasikan roman abad pertengahan, dan kegetiran kolonialisme dan supremasi nasionalis hingga Perang Dunia disediakan penulis besar semisal Rudyard Kipling, Fyodor Dostoyevski, Leo Tolstoy, dan Ernest Hemmingway.

Dalam bentuk lain, science fiction atau fiksi sains berusaha untuk menghadirkan cerita dengan elemen sains sebagai unsur kuat yang membangunnya. Dalam jalan cerita serta elemen ekstrinsik yang membangunnya, fiksi sains berusaha menempatkan alat-alat futuristik serta petualangan dengan nuansa mirip fantasi namun terasa memiliki kemungkinan untuk dapat terjadi. Fiksi sains tidak menghadirkan benda-benda mitik serupa pusaka, dimensi metafisik, dan makhluk-makhluk mitos, tetapi mengadaptasi penemuan alat-alat baru, planet-planet, serta alien yang menyediakan bentuk serta kemungkinan yang sedekat mungkin dapat dianggap rasional.

Jika dilihat dari wacana perkembangannya, fiksi sains mulai dikembangkan dari awal abad ke-19. Pengaruhnya dapat dilihat dari perkembangan ilmu pengetahuan dan revolusi industri peradaban Barat yang pesat dari akhir abad ke-18. Penggunaan energi kinetik, uap, dan listrik serta penemuan alat-alat baru untuk memudahkan kehidupan manusia saat itu menuntun peradaban untuk maju dan menandai perkembangan zaman.

Meski pengaruh besar dari perkembangan ilmu pengetahuan dan penemuan yang pesat menuju milenium ke-2 merupakan tanda penting untuk mengkaji perkembangan fiksi sains, beberapa literasi tua ternyata menyimpan unsur serta konsep sains jauh sebelum Thomas Edison mengomersilkan bola lampu listrik. Epik tertua yang dapat dikatakan berusaha untuk mengadaptasi konsep fiksi sains adalah epos yang diberi judul Gilgamesh yang berasal dari 12 prasasti dari kebudayaan Sumeria. Cerita Gilgamesh mengandung unsur makhluk-makhluk baru yang terpisah dan berbeda dengan epos Babylonia, Atrahasis yang meski mengandung unsur yang sama yakni kisah banjir besar dan tokoh bernama Utnapishtim. Meski begitu, unsur metafisis terasa cukup kental dan menjadikan bobot ‘sains’ tidak dekat dengan Gilgamesh.

Dalam contoh lain, epos Mahabarata dari kebudayaan Hindu di India dalam satu babak menceritakan perjalanan Kakudmi, seorang raja yang bertemu Sang Pencipta yakni Brahma. Ketika kembali dari perjalanannya Kakudmi menemui bahwa waktu telah berlalu. Sangat mencengangkan bahwa konsep distorsi ruang dan waktu pada fisika modern ternyata telah ada dalam epos yang usianya ribuan tahun.

Karya-karya tua yang mengandung unsur-unsur fiksi sains tersebut masih mengandung latar dan tokoh yang erat dengan kepercayaan tertentu. Contoh lain misalnya, dalam Kisah 1001 Malam dari kebudayaan timur, ada suatu babak saat protagonist bernama Bulukiya dalam usahanya mencari keabadian berturut-turut sampai ke Surga dan Neraka (yang dalam cerita bernama Jahannam). Meski begitu, kisah Bulukiya dianggap memiliki unsur fiksi sains karena Bulukiya berjalan di antara bintang-bintang dan mengunjungi beberapa planet lain dan dapat dianggap sebagai kisah perjalanan luar angkasa jauh sebelum Star Trek.

Dalam contoh kebudayaan timur dan cerita keagamaan, dalam kebudayaan Islam terdapat cerita Isra Miraj ketika Nabi Muhammad diperintah Tuhan untuk datang ke langit ke-7. Ada juga cerita Ashkabul Kahfi yang menceritakan 3 orang pemuda dan seekor anjing yang tidur dan bangun setelah 300 tahun. Jika ditelaah, cerita keagamaan dalam kebudayaan Islam memiliki konsep-konsep fiksi sains jauh sebelum H. G. Wells menulis The Time Machine.

Filsuf Perancis, Voltaire menulis cerita pendek berjudul Micromegas tentang sebuah peradaban di sebuah planet yang mengitari bintang Sirius. Micromegas adalah sebuah makhluk (humanoid) yang diceritakan memiliki tinggi 23 mil dan berusia 450 tahun bumi. Konsep alien merupakan unsur penting yang menjadikan Micromegas menjadi karya fiksi sains awal yang unik. Sayangnya di kelahirannya pada tahun 1752 menjadikan Micromegas dianggap sebagai karya sesat dan distribusi serta dokumentasinya dibatasi dan sempat hilang berpuluh tahun. Konsep perjalanan waktu juga muncul dalam literatur abad ke-18 berjudul Memoirs of the Twentieth Century karya Samuel Madden. Meski begitu, bukan manusia yang mengalami perjalanan tersebut melainkan malaikat dari abad ke-20 yang membawa surat untuk tahun 1728. Kedua karya awal di abad ke-18 ini menandai keunikan unsur-unsur fiktif yang berkembang pada literatur saat itu.

Meski fiksi sains berdiri sebagai cerita rekaan, dalam literasi kuno, cerita keagamaan, dan literasi sebelum era pencerahan terdapat konsep-konsep fiksi sains. Jika dilihat, tidak semua struktur dalam cerita-cerita sebelum akhir abad ke-18 mengandung konsep fiksi sains secara keseluruhan namun beberapa aspeknya menghadirkan bentuk yang menjadikan rasionalitas dalam cerita tersebut terasa dekat.

Terminologi science fiction pertama kali digunakan oleh Hugo Gernsback di majalah Amazing Story edisi pertama tahun 1926. Dalam istilah yang ia sebut ‘scientifiction’ itu, ia menjelaskan bahwa ada sebuah usaha pengarang untuk memasukkan unsur sains sebagai elemen fiktif yang kuat dalam karyanya. Ia menyebut penulis abad 19 semisal Jules Verne dan H.G. Wells sebagai contoh penulis-penulis yang berpengaruh dan berusaha mengeksploitasi fakta sains. Hal ini pun menandai Amazing Story sebagai science fiction magazine pertama dan berpengaruh.

Dalam beberapa kurun waktu ke depan, science fiction magazine merupakan sebuah tanda penting untuk membaca fiksi sains. Perkembangan literasi modern dan populer di abad ke-19 yang ditandai dengan kemunculan science fiction magazine di Amerika menandai beberapa karakteristik dan pengukuhan fiksi sains. Beberapa penulis fiksi sains setelah Wells dan Verne semisal Isaac Asimov dan Arthur C. Clarke adalah penulis yang bersinar saat science fiction magazine memiliki posisi penting di dalam literasi populer saat itu. Karakteristik karya yang dapat dilihat dari perkembangan science fiction magazine adalah tingginya eksploitasi latar ekstraterestrial dan interdimensi, karakter alien, alat-alat canggih, dan tentunya perjalanan waktu.

Seiring perkembangan, nasionalisme bangsa-bangsa dan Perang Dunia I dan II yang mengguncang dan melukai kemanusiaan saat itu dapatlah dilihat beberapa visi dari fiksi sains juga berkembang. Dalam novel 1984 karya George Orwell yang terbit tahun 1949 dan Brave New World yang terbit 17 tahun sebelumnya dapat dilihat konsep dystopia yang menjadi wacana besar saat itu. Keduanya mengambil seting masa depan dan menggambarkan kondisi sosial masyarakat yang dianggap bobrok. Sistem sosial yang bobrok dalam kedua novel tersebut seakan ingin memberi gambaran bahwa ada sesuatu yang salah yang terjadi dalam tatanan masyarakat. Selain tatanan masyarakat, konsep dystopia yang diangkat literatur serupa juga berusaha mengangkat bencana global atau post-apocalyptic yang kadang menggambarkan kemanusiaan dan alam yang dekat dengan kehancuran seperti yang dikisahkan The Day of The Triffids karya John Wyndham tahun 1951 yang menceritakan supremasi tumbuhan yang bermutasi karena bencana global dan membuat manusia berada pada piramida makanan di bawahnya.

Wacana dystopia merupakan bentuk yang amat populer jika melihat beberapa fiksi sains yang lahir pada beberapa dekade ke belakang. Cerita-cerita tentang zombie dan yang dapat dilihat dari karya populer semisal Divergent dan The Hunger Games adalah fiksi sains yang baik dan menggambarkan kehidupan sosial masyarakat yang berada di ujung tanduk. Dapatlah dilihat bahwa pengarang sebagai agen kebudayaan berusaha untuk memberikan peringatan bahwa mereka melihat bahwa kemanusiaan berada pada titik tertentu yang mengkhawatirkan. Dystopia mungkin hanya konsep yang pertama dipopulerkan Thomas More untuk memberikan gambaran terhadap anti-utopia. Namun bagaimana jadinya jika kita, hari ini hidup di dalam dystopia?

Fiksi sains merupakan sebuah tanda penting dan perjalanannya amat panjang. Tak hanya berdiri sebagai suatu karya yang mengandung unsur imajinasi dan pertimbangan rasionalitas yang kuat, fiksi sains dapat didiskusikan sebagai sebuah alat yang mempertimbangkan rasionalitas epos kuno dan cerita keagamaan dan juga memberi gambaran mengenai masa depan yang akan kita hadapi. Percaya adalah hal lain, namun membaca dan merasa khawatir adalah sesuatu. Sesuatu yang memacu kita untuk terus berharap dan mencari kebaikan.

bottom of page